Resep dan Kuliner

Sejarah Kelam Penemuan Kopi Luwak Pertama

Kapan kopi luwak lahir? Apakah Anda sudah tahu? Rupanya kopi luwak sudah ditemukan sejak tahun 1800-an. Tepatnya pada waktu cengkeraman Belanda masih begitu kuat menguasai kehidupan Tanah Air.

Boleh jadi, apa yang dilakukan oleh Van den Bosch merupakan kesalahan yang sulit dimaafkan oleh bangsa mana pun. Ketika politik Tanam Paksa dilancarkan, sebetulnya praktik ini belum dilegalisasi oleh Ratu Belanda. Tidak lain atas inisiatif Van den Bosch sendiri di tengah carut-marutnya Belanda akibat besarnya utang yang dimilikinya.

Politik Tanam Paksa atau Cultuurstelsel ini mewajibkan para petani untuk menyisihkan lahan 20% untuk ditanami komoditas kopi, tebu, dan juga nila. Hanya saja, nyaris seluruh buah usaha tersebut diangkut oleh Belanda. Para petani pun mengambil inisiatif untuk mengonsumsi kopi hasil keluaran (feses) luwak sebelum disantap.

Lahirnya kopi luwak—seperti yang disebutkan tadi—bertepatan dengan diberlakukannya politik Tanam Paksa. Akibat politik tersebut, bencana kelaparan menaungi warga daerah Cirebon dan Jawa Tengah pada umumnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Demi Tanam Paksa, pemerintah Belanda hanya mengizinkan petani untuk menanam kopi, tebu, dan nila.

Akibatnya, sumber makanan utama seperti nasi pun dianak-tirikan. Hampir tidak ada petani padi waktu itu. Alhasil, harga beras dan padi pun melonjak tajam. Sedangkan para petani yang rata-rata miskin tidak mampu membelinya. Bisa dibilang, politik Tanam Paksa merupakan masa paling eksploitatif yang diderita oleh petani Tanah Air.

Ungkapan “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” di Indonesia sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Ironisnya, para penemu kopi luwak berasal dari para petani yang tidak memiliki lahan. Mereka diwajibkan kerja selama 66 hari karena begitulah aturan Kerja Rodi yang ditetapkan oleh Van den Bosch.

Para petani kopi zaman itu kerapkali diperlakukan sebagai budak. Ketika tidak patuh sedikit saja, maka hukuman fisik akibatnya. Bahkan perlakuan ini juga menular ke tuan tanah, bukan hanya Belanda saja. Ironis sekali, bukan? Akhirnya, istilah budak untuk petani dan majikan untuk tuan tanah santer terdengar kala itu.

Ketika kopi luwak ditemukan oleh para petani kopi, keberadaannya memang sempat diacuhkan oleh Van den Bosch dan kroni-kroninya. Namun tidak berhenti di situ. Van den Bosch pun mencium gelagat tidak beres ketika para petani kopi bisa menikmati seduhan kopi hasil kotoran luwak. Kemudian dia memanggil para peneliti dari Belanda.

Sejak itulah kopi luwak dirampas oleh Belanda dan dijadikan komoditas ekspor utama. Proses yang unik dan sulit itu membuat harga kopi menjadi sangat mahal. Berkat kopi luwak, Belanda mencapai zaman keemasannya. Banyak pemasukan ke kas negara Belanda dari penjualan kopi luwak tersebut ke berbagai negara. Pasalnya harga satu gelas kopi luwak saja mencapai 20-80$.

Di masa itulah Van den Bosch selaku pelopor politik Tanam Paksa mendapatkan penghargaan dengan gelar terhormat. Namanya Graaf. Langsung diberikan oleh Sang Ratu Belanda. Ironisnya, gelar itu didapat dari penderitaan para petani di Indonesia yang kemudian menuai kecaman dari berbagai aktivis Belanda sendiri dan negara-negara lain.

Kesalahan yang tak terbayar itu telah menghasilkan sejarah tersendiri untuk kopi asal Indonesia. Di sisi lain, mungkin akan menyebabkan pertanyaan, “Mengapa kopi luwak harus lahir di tengah-tengah penderitaan?” Tanpa sejarah kesalahan Belanda itu, mungkin Anda tidak akan kenal dengan kopi luwak yang fenomenal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *